Skip to main content

Posts

Showing posts from 2018

Yang tak semestinya

Aku kalah lagi, kali ini. Perihal mengendalikan perasaanku. Aku tak mampu lagi. Kembali berekspektasi terlalu tinggi. Hingga aku lupa, jatuh ini begitu menyesakkan. Tak semestinya aku berfikir demikian. Hingga lara ini kembali datang. Haruskah aku satu satunya pihak yang kusalahkan? Disaat orang lain juga memberi harapan. Atau aku saja yang begitu kegirangan dan menganggap itu sebagai sebuah tanda rasa sayang. Sejujurnya aku tidak ingin menangis. Namun aku gagal kali ini. Setiap kata yang tertulis diiringi dengan air mata. Perihal pergi darimu harusnya sudah kulakukan sejak dulu. Agar luka semacam ini tidak menyakiti ku (lagi). Namun ketika saat itu aku memutuskan untuk kembali untukmu, nyatanya bukan aku pilihanmu. Bukan aku yang ada dihatimu. Aku tiada henti menyalahkan diri sendiri. Bodoh kadang sampai keterlaluan. Hingga menyakiti hati yang sudah patah hingga lebam. Haruskah aku benar benar pergi kali ini? Dan menutup semua perihal kita? Jika aku benar melakukannya. Tol...

Rindu yang tak sempat kamu baca

Dihari saat kamu mendapat pesan dariku, dengan 3 huruf sederhana yang menyapamu. Percayalah, pada saatnya juga aku telah berhasil menjatuhkan egoku yang telah ribuan kali mencoba menentangnya. Aku telah mampu menaklukkan diri sendiri atas perasaan ini. Kamu harus tau bahwa aku telah mencoba berkali kali untuk memulainya. Meski sekedar 'Hai' singkat seolah tanpa makna. Sungguh di dalamnya terbersit harapan untuk mengetahui kabarmu yang jauh disana. Tidak kah kamu rindu? :) Pertanyaan ini ingin sekali ku tau jawabanmu. Meski mungkin harus kuterima kenyataan sakit karena tak dirindukan oleh seseorang yg aku rindukan. Seperti cinta, mungkin rindu juga bisa bertepuk sebelah ruang. Saat ruang hatiku dan ruang hatimu tidak senada. Aku merindu dan kamu justru tidak peduli terhadapku. Maka biarlah kerinduan yg sesak ini mengalir bersama kata kata yang ku tulis ini. Dariku, yang begitu putus asa merindukanmu.

Andai itu bukan aku

Andai itu bukan aku, yang ada di hatimu. Maka aku ingin berterimakasih. Untuk semuanya yang pernah kita lakukan bersama. Kalaupun itu tidak berakhir seperti yang aku inginkan. Aku akan selalu ingat, bagaimana bahagianya kita kala itu. Sibuk mencari cari  dan bermain seperti anak kecil. Betapa tawa bahagia kita saat itu sangat berharga. Aku tidak membencinya, aku tidak membencimu, aku tidak membenci kita. Aku hanya membenci diriku sendiri. Aku benci diriku yang terlalu polos untuk menganggap bahwa itu adalah sebuah perasaan lebih. Aku marah pada diriku bahwa aku telah salah mengartikan kebaikanmu. Aku fikir kamu hanya seperti itu kepadaku haha, ternyata kamu memang baik ke semuanya.  Kamu memang lelaki yang sangat baik. Dan itu yang membuatku marah, pada diri sendiri. Semakin kamu bersikap baik pada semua orang, eh maksutku ke semua wanita itu juga yang membuatku semakin marah pada diri sendiri. Bisa bisanya aku berfikir kamu memiliki rasa padaku padahal memang kamu seb...

Kejujuran yang berat

Siang ini udara berhembus dengan ringan, matahari bersinar terik, awan awanpun saling bertegur sapa. Aku iri padanya. Andai aku juga bisa, menanyakan kabarmu yang jauh disana. Hari ini, sudah hampir 2 bulan sejak pertemuan kita terakhir kali. Tentu saja aku rindu haha. Tapi aku selalu berusaha untuk tidak terlalu larut dengan hal itu. Aku hanya menjalani dan menikmati apa yang telah terjadi. Sejujurnya bukankah apa yang telah terjadi terlalu sulit untuk kita jabarkan? Maksutku, kita terlalu gengsi untuk mengakui, pun memulai. Kita hanya sibuk membuat penolakan atas masing-masing kita. Aku tidak peduli jika kau mengira aku terlalu percaya diri karena tulisan ini, seperti yang kau sampaikan pada ku terakhir kali. Dan kau tau, perkataanmu itu juga yang membuatku berfikir bahwa aku telah terlalu jauh. Menginginkan kita bersama, nyatanya terlalu berat bagiku. Kau yang terus saja menjauh. Membuatku berfikir ratusan kali untuk pergi. Meski pada akhirnya aku kembali lagi. Meski berat, ...

Lelaki penggenggam masa lalu

Jangan bersedih Kataku, Entah siapa yang pantas menerima ucapan ini. Kamu yg masih selalu mengingat masa lalumu, atau aku yang berdiri di depanmu dg bayangan masa lalumu. Barang kali kita tampak menyedihkan. Terlalu memaksa atau justru karena ingin mencari penyembuhan dari masing masing kita. Kamu yg belum bisa lepas dari masa lalumu, dan aku yg baru saja menerima luka dari seseorang yg pernah menjanjikan bersama kemudian pergi tanpa kata. Melihatmu yang semakin mengingat masa lalumu, membuatku semakin tak di inginkan. Oh iya, apalah aku ini. Hanya sekedar penenang saat kamu kebingungan, menjadi ramai saat hatimu sepi, menjadi mimpi kala nyata di depanmu terlampau perih untuk dilewati. Aku, menyedihkan. Tidak selamanya kita akan seperti ini bukan? Mungkin esok atau lusa akan ada yg berubah dari kita. Barang kali, esok kau akan memutuskan untuk menutup semua tentang hal buruk itu, dan menatap langkah depan bersama aku yg sedari dulu menginginkan itu. Atau justru, lusa aku ya...

Sepatah musim semi kali ini

Sepagi ini sudah patah (lagi) Kali ini oleh siapa? Kenapa? Mengapa? Hei kamu, Sudah, jangan biarkan dirimu tenggelam dalam kesedihan Luka yang menyayat biarkan terpahat Hati yang terkikis biarkan menangis Air mata yang jatuh biarkan  meluruh Seluruh kesedihan yang menikam biarkan melebam Barangkali tuhan belum berbaik hati, kali ini. Jangan biarkan patah itu membuatmu lengah, Teruslah berjalan pada setiap tapak jalan bergelombang di depan yg penuh kekosongan Hatimu kuat, setidaknya sampai saat ini Jangan pernah meminta rasa iba pada siapa-siapa Kamu kuat dengan sebenar-benarnya Teruslah melangkah, meski peluh jatuh berpuluh puluh Jalanmu akan bertemu dipersimpangan yang entah akan dibersamakan atau lagi-lagi ditinggalkan. Kamu hanya perlu bersiap hati, bahwa jangan lagi memberi hati pada yang tidak berniat mengimami. Kesunyian yang dia jadikan alasan untuk menujumu adalah jahat yg lebih halus dari berkhianat. Tetaplah menjadi kuat kamu. Dipatahkan bukan berart...

Ku kira kau

Sore ini aku sedih dan gembira. Aku bertemu dengan seseorang, dia mirip sekali denganmu. Kulihat sekali lagi, aku pastikan itu bukan kamu. Meski sebenarnya aku berharap. Aku sedih karena setelah benar kupastikan dia bukan kamu. Sedih karena  hujan lebat sore itu mematahkan hatiku sekali lagi, Lagi lagi kamu dan hujan membuatku bersedih. Tapi aku gembira. Meski dia benar bukan kamu, setidaknya. Aku bisa melihat wajahmu pada diri orang lain. Serindu itu aku padamu, dan sebersyukur itu aku dengan pertemuan ini. Meski pada akhirnya dia bukan kamu. Semoga dilain kesempatan Tuhan benar mempertemukan kamu, yang ku rindukan dengan teramat pedih sekali.

Kita yang pernah hampir bersama

Sulit bagiku mendefinisikan kita. Tanpa tau sampai mana batasan yang bisa ku tegaskan. Seperti ingin mengiyakan tapi kamu menahan. Seperti bukan, tapi kamu memberi harapan. Maksutku, aku ingin kejelasan.  Kita yang pernah mengupayakan kebersamaan. Saling menemani dalam kesulitan. Memberi nyaman dalam keresahan. Saling bertahan diantara ratusan keingin pergian. Kita yang hampir dibersamakan. Nyatanya harus berakhir pada sebuah pergi tanpa pamitan. 

Tentang Kepergian

Baru saja aku mengerti, bahwa yang hadir setelah pergi memang benar terjadi Baru saja aku memahami, bahwa ketika benar aku ikhlas melepas, tuhan akan mendatangkan yang jauh lebih baik. Baru saja aku menerima kabar gembira, kini aku harus kembali berduka Pergimu yang masih belum bisa kuterima Tentang kepergian yang tak aku inginkan Aku berusaha mengerti takdir tuhan Bahwa apa yang terjadi adalah sebuah kepastian Pun ketika aku baru saja bahagia sebab kedatangan, lantas begitu saja harus kuterima sebuah kepergian. Pergimu yang tiba-tiba semoga menjadi awal yang baik untuk kita Tak apa kamu tak ada selama kita masih bisa saling memberi makna Pada setiap kabar yang dikirimkan dengan penuh rasa bahagia Bahwa sesungguhnya jarak bukanlah apa-apa, Selama kita mampu saling menjaga Pergilah, tapi kembalilah.

Aku yang sebatas pernah

Pada sudut terkecil ruang hatimu, aku percaya aku pernah mengisinya. Menjadi alasanmu tersenyum bahagia, menggenggam harap bersama, meski pada akhirnya harus berakhir entah tanpa disengaja. Aku yang selalu mencoba mengerti, bahwa kesibukan adalah bagian dari ujian kebersamaan. Aku yang selalu meminta temu, disela sela waktu padatmu, namun seringkali harus merawat rasa itu. Aku yang selalu bilang rindu, padamu yang tak juga mampu membunuh jarak meski dekat. Aku yang selalu mencoba mematahkan takut, saat kamu diam diam mulai terlihat kalut. Bahwa setelah memberi nyaman kemudian menghilang bukanlah kamu. Nyatanya mimpi buruk itu ada. Ketakutanku benar adanya. Saat rinduku sudah tak mengenal tapi, saat kecewaku sudah tak mampu memberi maaf lagi, saat sabarku sudah tak tersisa lagi, aku mengerti ini saatnya aku untuk berhenti. Mengerti bahwa di dunia ini ada hal-hal yang memang tidak bisa kita paksakan. Dan menerima dengan ikhlas adalah sebaik-baiknya pilihan. Kini aku hanya bisa merela...

Wanita tanpa air mata

Pernah aku begitu menyayangi Pernah juga aku tulus memberi Pada hati yang tak pernah mengerti Bahwa cintaku lebih dari kata tapi Aku yang begitu tabah atas rasa yang tak menentu adanya Atas luka yang terus bersemayam tanpa jeda Hati yang kian terluka karena rasa Aku yang mencintaimu bisa apa, Jika hatiku begitu saja menerima Aku terluka, Entah untuk kesekian kalinya Tak terhingga Sebabmu yang terus saja meronta Bahwa aku bisa untuk terus berjuang atas nama cinta Aku wanita yang tak mengenal kata putus asa Perihal mencintaimu misalnya, Aku mengerti bahwa balasanmu adalah tentang lara Memperjuangkanmu adalah sia-sia Bertahan untukmu adalah kebodohan saja Dan menyerah adalah pilihan utama Tapi aku masih terus ingin berkata Bahwa cintamu akan hadir, suatu saat yang entah untuk siapa Bukan aku sepertinya Tiadakah sedikit celah untuk dapat kurengkuh Pada ruang hatimu yang kian menjauh Aku yang mencintaimu dengan sungguh, Tak akan mengeluh meski hatiku berpeluh ...

Yang tak sampai termiliki

Batas akhir mencintai seseorang adalah mengikhlaskan. Sebab memiliki hanyalah mimpi. Semua rasa dan rindu yang selama ini terpendam telah tercurahkan. Namun sayang, tidak semua cinta mendapat balasan. Aku cukup tau diri perihal rasa. Jika memang kau tak cinta, aku bisa apa. Menunggu? Tidak, aku sudah cukup berterimakasih dengan ini semua. Terimalah aku sebagai perempuan yang pernah memperjuangkanmu. Yang selalu mengucap rindu dan menuntut temu. Yang selalu setia menunggu meski dikecewakan selalu. Terimakasih telah ada, Memberi warna, bahagia~ meski sementara. Kau tidak cinta aku tak apa, Aku hanya tak ingin kau ada, karna iba. Jangan khawatir, aku tetap cinta. Namun berusaha rela. Sebab mencintai perihal memberi, karena memiliki hanya sebuah ilusi. Teruntuk, Kau. Yang tak sampai termiliki.

Selamat tinggal, Tuan

Aku selalu berniat meninggalkan, sebab aku sudah lelah diabaikan. Suatu hari tiba tiba kau datang, memberi harapan. Lalu aku lupa bahwa aku berniat meninggalkan. Saat aku terlalu bahagia sebabmu, tiba tiba kau menghilang. Hingga aku merasa terabaikan. Kemudian kau menghampiri lagi, dengan membawa harapan. Katamu kau rindu dan ingin bertemu. Aku begitu bahagia lantas lupa, bahwa sedari awal aku berniat untuk mengahiri ini semua. Aku sudah terlalu bersemangat menunggu pertemuan kita. Kemudian dengan santainya kau bilang “maaf aku lupa”. Dan selalu begitu~ Aku penasaran, Sehina apa aku dimatamu, tuan? Sampai kau dengan mudahnya datang, memberi janji lalu pergi. Kini aku sadar, aku hanya pengisi saat kau kosong, bosan, saat kau kesepian. Aku tak seberuntung perempuan yg kau cintai. Tapi setidaknya aku bersyukur, tidak dibersamakan dengan seseorang yg hanya bisa berjanji tanpa pernah menepati. Cukuplah selama ini aku berharap pada hal yg palsu. Rindumu, janjimu, keha...

Rindumu palsu

Rinduku, Katamu kau juga rindu, tapi sejauh ini tak ada usaha untuk bertemu. Sudah terlalu lama rasanya aku menunggumu, selama ini aku hanya bertahan dengan janji-janjimu bahwa kau akan menemuiku. Kau selalu begitu. Datang membawa harapan, kemudian aku senang. Aku sudah terlalu bersemangat menunggu, nyatanya janjimu palsu. Kau tak juga datang. Selalu ada saja sesuatu, yang entah memang benar adanya atau sengaja kau buat-buat agar tak jadi bertemu. Aku hanya meminta, jangan jadikan aku sebagai perempuan yang menyedihkan. Kau tau aku cinta, kau tau aku rindu. Cukup bagiku selama ini memelas. Jika kau memang cinta, tunjukkanlah. Jika memang rindu, temuilah. Jangan berkata cinta tapi tak pernah ada usaha. Jangan berkata rindu tapi tak pernah mewujudkan temu. Aku sudah lelah denganmu yang datang dan pergi sesukamu. Aku tak sekuat yang kau kira. Aku hanya perempuan biasa yang sama seperti perempuan lainnya. Menangis jika kau beri harapan yang nyatanya memang hanya sekedar harap. Berjua...