Skip to main content

Sepatah musim semi kali ini

Sepagi ini sudah patah (lagi)
Kali ini oleh siapa? Kenapa? Mengapa?
Hei kamu,
Sudah, jangan biarkan dirimu tenggelam dalam kesedihan
Luka yang menyayat biarkan terpahat
Hati yang terkikis biarkan menangis
Air mata yang jatuh biarkan  meluruh
Seluruh kesedihan yang menikam biarkan melebam
Barangkali tuhan belum berbaik hati, kali ini.

Jangan biarkan patah itu membuatmu lengah,
Teruslah berjalan pada setiap tapak jalan bergelombang di depan yg penuh kekosongan
Hatimu kuat, setidaknya sampai saat ini
Jangan pernah meminta rasa iba pada siapa-siapa
Kamu kuat dengan sebenar-benarnya

Teruslah melangkah, meski peluh jatuh berpuluh puluh
Jalanmu akan bertemu dipersimpangan yang entah akan dibersamakan atau lagi-lagi ditinggalkan.
Kamu hanya perlu bersiap hati, bahwa jangan lagi memberi hati pada yang tidak berniat mengimami.
Kesunyian yang dia jadikan alasan untuk menujumu adalah jahat yg lebih halus dari berkhianat.

Tetaplah menjadi kuat kamu.
Dipatahkan bukan berarti harus patah.
Payah jika kamu menyerah.
Maka teruslah berjalan melalui jalan panjang itu.
Sampai Tuhan berkata berhenti, disitulah harus kamu letakkan hati yang sudah terkoyak
Padanya kelak akan kamu simpan, rasa yg benar akan menjatuhkanmu pada yang tepat.
Bukan yang pandai memikat, kemudian menjatuhkanmu tanpa sebab.

Selamat menikmati sakit wahai kamu.
Sedihlah,
Menangislah,
Kemudian bangkitlah,
Harimu masih panjang
Selamat menikmati musim semi dengan patah hati terbaikmu, kamu ya kamu.
Teruntuk kamu,
Diri sendiri.

Comments

  1. Menyemangati diri padahal yg nyemangati butuh disemangati jua..

    ReplyDelete
  2. Karna pura pura tegar itu kadang perlu :')

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Lelaki penggenggam masa lalu

Jangan bersedih Kataku, Entah siapa yang pantas menerima ucapan ini. Kamu yg masih selalu mengingat masa lalumu, atau aku yang berdiri di depanmu dg bayangan masa lalumu. Barang kali kita tampak menyedihkan. Terlalu memaksa atau justru karena ingin mencari penyembuhan dari masing masing kita. Kamu yg belum bisa lepas dari masa lalumu, dan aku yg baru saja menerima luka dari seseorang yg pernah menjanjikan bersama kemudian pergi tanpa kata. Melihatmu yang semakin mengingat masa lalumu, membuatku semakin tak di inginkan. Oh iya, apalah aku ini. Hanya sekedar penenang saat kamu kebingungan, menjadi ramai saat hatimu sepi, menjadi mimpi kala nyata di depanmu terlampau perih untuk dilewati. Aku, menyedihkan. Tidak selamanya kita akan seperti ini bukan? Mungkin esok atau lusa akan ada yg berubah dari kita. Barang kali, esok kau akan memutuskan untuk menutup semua tentang hal buruk itu, dan menatap langkah depan bersama aku yg sedari dulu menginginkan itu. Atau justru, lusa aku ya...

Kejujuran yang berat

Siang ini udara berhembus dengan ringan, matahari bersinar terik, awan awanpun saling bertegur sapa. Aku iri padanya. Andai aku juga bisa, menanyakan kabarmu yang jauh disana. Hari ini, sudah hampir 2 bulan sejak pertemuan kita terakhir kali. Tentu saja aku rindu haha. Tapi aku selalu berusaha untuk tidak terlalu larut dengan hal itu. Aku hanya menjalani dan menikmati apa yang telah terjadi. Sejujurnya bukankah apa yang telah terjadi terlalu sulit untuk kita jabarkan? Maksutku, kita terlalu gengsi untuk mengakui, pun memulai. Kita hanya sibuk membuat penolakan atas masing-masing kita. Aku tidak peduli jika kau mengira aku terlalu percaya diri karena tulisan ini, seperti yang kau sampaikan pada ku terakhir kali. Dan kau tau, perkataanmu itu juga yang membuatku berfikir bahwa aku telah terlalu jauh. Menginginkan kita bersama, nyatanya terlalu berat bagiku. Kau yang terus saja menjauh. Membuatku berfikir ratusan kali untuk pergi. Meski pada akhirnya aku kembali lagi. Meski berat, ...

Aku yang sebatas pernah

Pada sudut terkecil ruang hatimu, aku percaya aku pernah mengisinya. Menjadi alasanmu tersenyum bahagia, menggenggam harap bersama, meski pada akhirnya harus berakhir entah tanpa disengaja. Aku yang selalu mencoba mengerti, bahwa kesibukan adalah bagian dari ujian kebersamaan. Aku yang selalu meminta temu, disela sela waktu padatmu, namun seringkali harus merawat rasa itu. Aku yang selalu bilang rindu, padamu yang tak juga mampu membunuh jarak meski dekat. Aku yang selalu mencoba mematahkan takut, saat kamu diam diam mulai terlihat kalut. Bahwa setelah memberi nyaman kemudian menghilang bukanlah kamu. Nyatanya mimpi buruk itu ada. Ketakutanku benar adanya. Saat rinduku sudah tak mengenal tapi, saat kecewaku sudah tak mampu memberi maaf lagi, saat sabarku sudah tak tersisa lagi, aku mengerti ini saatnya aku untuk berhenti. Mengerti bahwa di dunia ini ada hal-hal yang memang tidak bisa kita paksakan. Dan menerima dengan ikhlas adalah sebaik-baiknya pilihan. Kini aku hanya bisa merela...