Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2018

Ku kira kau

Sore ini aku sedih dan gembira. Aku bertemu dengan seseorang, dia mirip sekali denganmu. Kulihat sekali lagi, aku pastikan itu bukan kamu. Meski sebenarnya aku berharap. Aku sedih karena setelah benar kupastikan dia bukan kamu. Sedih karena  hujan lebat sore itu mematahkan hatiku sekali lagi, Lagi lagi kamu dan hujan membuatku bersedih. Tapi aku gembira. Meski dia benar bukan kamu, setidaknya. Aku bisa melihat wajahmu pada diri orang lain. Serindu itu aku padamu, dan sebersyukur itu aku dengan pertemuan ini. Meski pada akhirnya dia bukan kamu. Semoga dilain kesempatan Tuhan benar mempertemukan kamu, yang ku rindukan dengan teramat pedih sekali.

Kita yang pernah hampir bersama

Sulit bagiku mendefinisikan kita. Tanpa tau sampai mana batasan yang bisa ku tegaskan. Seperti ingin mengiyakan tapi kamu menahan. Seperti bukan, tapi kamu memberi harapan. Maksutku, aku ingin kejelasan.  Kita yang pernah mengupayakan kebersamaan. Saling menemani dalam kesulitan. Memberi nyaman dalam keresahan. Saling bertahan diantara ratusan keingin pergian. Kita yang hampir dibersamakan. Nyatanya harus berakhir pada sebuah pergi tanpa pamitan. 

Tentang Kepergian

Baru saja aku mengerti, bahwa yang hadir setelah pergi memang benar terjadi Baru saja aku memahami, bahwa ketika benar aku ikhlas melepas, tuhan akan mendatangkan yang jauh lebih baik. Baru saja aku menerima kabar gembira, kini aku harus kembali berduka Pergimu yang masih belum bisa kuterima Tentang kepergian yang tak aku inginkan Aku berusaha mengerti takdir tuhan Bahwa apa yang terjadi adalah sebuah kepastian Pun ketika aku baru saja bahagia sebab kedatangan, lantas begitu saja harus kuterima sebuah kepergian. Pergimu yang tiba-tiba semoga menjadi awal yang baik untuk kita Tak apa kamu tak ada selama kita masih bisa saling memberi makna Pada setiap kabar yang dikirimkan dengan penuh rasa bahagia Bahwa sesungguhnya jarak bukanlah apa-apa, Selama kita mampu saling menjaga Pergilah, tapi kembalilah.

Aku yang sebatas pernah

Pada sudut terkecil ruang hatimu, aku percaya aku pernah mengisinya. Menjadi alasanmu tersenyum bahagia, menggenggam harap bersama, meski pada akhirnya harus berakhir entah tanpa disengaja. Aku yang selalu mencoba mengerti, bahwa kesibukan adalah bagian dari ujian kebersamaan. Aku yang selalu meminta temu, disela sela waktu padatmu, namun seringkali harus merawat rasa itu. Aku yang selalu bilang rindu, padamu yang tak juga mampu membunuh jarak meski dekat. Aku yang selalu mencoba mematahkan takut, saat kamu diam diam mulai terlihat kalut. Bahwa setelah memberi nyaman kemudian menghilang bukanlah kamu. Nyatanya mimpi buruk itu ada. Ketakutanku benar adanya. Saat rinduku sudah tak mengenal tapi, saat kecewaku sudah tak mampu memberi maaf lagi, saat sabarku sudah tak tersisa lagi, aku mengerti ini saatnya aku untuk berhenti. Mengerti bahwa di dunia ini ada hal-hal yang memang tidak bisa kita paksakan. Dan menerima dengan ikhlas adalah sebaik-baiknya pilihan. Kini aku hanya bisa merela...