Skip to main content

Tentang Kepergian

Baru saja aku mengerti, bahwa yang hadir setelah pergi memang benar terjadi
Baru saja aku memahami, bahwa ketika benar aku ikhlas melepas, tuhan akan mendatangkan yang jauh lebih baik.
Baru saja aku menerima kabar gembira, kini aku harus kembali berduka
Pergimu yang masih belum bisa kuterima

Tentang kepergian yang tak aku inginkan
Aku berusaha mengerti takdir tuhan
Bahwa apa yang terjadi adalah sebuah kepastian
Pun ketika aku baru saja bahagia sebab kedatangan, lantas begitu saja harus kuterima sebuah kepergian.

Pergimu yang tiba-tiba semoga menjadi awal yang baik untuk kita
Tak apa kamu tak ada selama kita masih bisa saling memberi makna
Pada setiap kabar yang dikirimkan dengan penuh rasa bahagia
Bahwa sesungguhnya jarak bukanlah apa-apa,
Selama kita mampu saling menjaga

Pergilah,
tapi kembalilah.



Comments

Popular posts from this blog

Lelaki penggenggam masa lalu

Jangan bersedih Kataku, Entah siapa yang pantas menerima ucapan ini. Kamu yg masih selalu mengingat masa lalumu, atau aku yang berdiri di depanmu dg bayangan masa lalumu. Barang kali kita tampak menyedihkan. Terlalu memaksa atau justru karena ingin mencari penyembuhan dari masing masing kita. Kamu yg belum bisa lepas dari masa lalumu, dan aku yg baru saja menerima luka dari seseorang yg pernah menjanjikan bersama kemudian pergi tanpa kata. Melihatmu yang semakin mengingat masa lalumu, membuatku semakin tak di inginkan. Oh iya, apalah aku ini. Hanya sekedar penenang saat kamu kebingungan, menjadi ramai saat hatimu sepi, menjadi mimpi kala nyata di depanmu terlampau perih untuk dilewati. Aku, menyedihkan. Tidak selamanya kita akan seperti ini bukan? Mungkin esok atau lusa akan ada yg berubah dari kita. Barang kali, esok kau akan memutuskan untuk menutup semua tentang hal buruk itu, dan menatap langkah depan bersama aku yg sedari dulu menginginkan itu. Atau justru, lusa aku ya...

Kejujuran yang berat

Siang ini udara berhembus dengan ringan, matahari bersinar terik, awan awanpun saling bertegur sapa. Aku iri padanya. Andai aku juga bisa, menanyakan kabarmu yang jauh disana. Hari ini, sudah hampir 2 bulan sejak pertemuan kita terakhir kali. Tentu saja aku rindu haha. Tapi aku selalu berusaha untuk tidak terlalu larut dengan hal itu. Aku hanya menjalani dan menikmati apa yang telah terjadi. Sejujurnya bukankah apa yang telah terjadi terlalu sulit untuk kita jabarkan? Maksutku, kita terlalu gengsi untuk mengakui, pun memulai. Kita hanya sibuk membuat penolakan atas masing-masing kita. Aku tidak peduli jika kau mengira aku terlalu percaya diri karena tulisan ini, seperti yang kau sampaikan pada ku terakhir kali. Dan kau tau, perkataanmu itu juga yang membuatku berfikir bahwa aku telah terlalu jauh. Menginginkan kita bersama, nyatanya terlalu berat bagiku. Kau yang terus saja menjauh. Membuatku berfikir ratusan kali untuk pergi. Meski pada akhirnya aku kembali lagi. Meski berat, ...

Aku yang sebatas pernah

Pada sudut terkecil ruang hatimu, aku percaya aku pernah mengisinya. Menjadi alasanmu tersenyum bahagia, menggenggam harap bersama, meski pada akhirnya harus berakhir entah tanpa disengaja. Aku yang selalu mencoba mengerti, bahwa kesibukan adalah bagian dari ujian kebersamaan. Aku yang selalu meminta temu, disela sela waktu padatmu, namun seringkali harus merawat rasa itu. Aku yang selalu bilang rindu, padamu yang tak juga mampu membunuh jarak meski dekat. Aku yang selalu mencoba mematahkan takut, saat kamu diam diam mulai terlihat kalut. Bahwa setelah memberi nyaman kemudian menghilang bukanlah kamu. Nyatanya mimpi buruk itu ada. Ketakutanku benar adanya. Saat rinduku sudah tak mengenal tapi, saat kecewaku sudah tak mampu memberi maaf lagi, saat sabarku sudah tak tersisa lagi, aku mengerti ini saatnya aku untuk berhenti. Mengerti bahwa di dunia ini ada hal-hal yang memang tidak bisa kita paksakan. Dan menerima dengan ikhlas adalah sebaik-baiknya pilihan. Kini aku hanya bisa merela...