Skip to main content

Posts

Akan selalu kurang, kalau yang jadi ukuran adalah nikmat orang lain

Pernahkan kamu iri dengan pencapaian orang lain? Pernahkah kamu iri dengan apa yang dimiliki orang lain? Pernahkan kamu ingin seperti orang lain yang tampak hidupnya lebih bahagia, lebih mudah, lebih kaya, lebih pintar, lebih disayangi dan lebih lebih yang lain.  Pada dasarnya manusia sama, kita selalu ingin memiliki apa yang tidak kita miliki. Dan tidak bersyukur atas apa yang telah kita miliki.  Tapi, mulai sekarang belajarlah untuk menerima dan tidak selalu menganggap pencapaian orang lain yang lebih baik dari kita adalah suatu hal yang mengganggu pikiran kita. barangkali tujuannya sama, tapi terkadang start-nya berbeda. prosesnya pun tidak mudah dan jelas tidak akan sama. jadi membandingkan dirimu dengan orang lain. hanya akan menyakiti diri kamu sendiri.  kita akan selalu merasa kurang atas apa yang telah kita miliki. oleh karena itu, mulai sekarang belajarlah bersyukur. berhenti melihat nikmat orang lain. belajarlah untuk selalu bersyukur atas diri sendiri. atas apa...
Recent posts

The struggle of being adult

Ku kira menjadi dewasa perihal kebebasan. Bisa memilih apapun yang kita mau. Menentukan jalan kita sendiri. Tanpa takut ada intimidasi dari orang orang.  Ku kira menjadi dewasa menyenangkan. Bersenang senang dengan teman. Nongkrong di cafe, nonton bioskop, jalan jalan di mall. Senin sampai sabtu sibuk bekerja. Dan weekend foya foya.  Nyatanya, bukan seperti itu. Begitu banyak hal yang dulu ku kira mengasyikkan, ternyata begitu sulit. Hal hal yang biasanya dengan mudah ku kendalikan, kini sampai hati aku menghadapinya. Beberapa hal sederhana yang sejatinya hanya ucapan, entah kenapa bisa begitu memilukan.  Berpikir seolah dunia ini tidak adil. Kenapa bisa orang orang begitu menikmati karena telah diberi kesempurnaan. Sedangkan beberapa orang terlalu sibuk melihat kekurangan. Bersyukur itu perlu, tapi kadang begitu berat. Termasuk dalam situasi ini.  Menjadi dewasa di tuntut untuk bisa bekerja, mandiri, apalagi di usia seperti ini. Beberapa pertanyaan t...

Yang tak semestinya

Aku kalah lagi, kali ini. Perihal mengendalikan perasaanku. Aku tak mampu lagi. Kembali berekspektasi terlalu tinggi. Hingga aku lupa, jatuh ini begitu menyesakkan. Tak semestinya aku berfikir demikian. Hingga lara ini kembali datang. Haruskah aku satu satunya pihak yang kusalahkan? Disaat orang lain juga memberi harapan. Atau aku saja yang begitu kegirangan dan menganggap itu sebagai sebuah tanda rasa sayang. Sejujurnya aku tidak ingin menangis. Namun aku gagal kali ini. Setiap kata yang tertulis diiringi dengan air mata. Perihal pergi darimu harusnya sudah kulakukan sejak dulu. Agar luka semacam ini tidak menyakiti ku (lagi). Namun ketika saat itu aku memutuskan untuk kembali untukmu, nyatanya bukan aku pilihanmu. Bukan aku yang ada dihatimu. Aku tiada henti menyalahkan diri sendiri. Bodoh kadang sampai keterlaluan. Hingga menyakiti hati yang sudah patah hingga lebam. Haruskah aku benar benar pergi kali ini? Dan menutup semua perihal kita? Jika aku benar melakukannya. Tol...

Rindu yang tak sempat kamu baca

Dihari saat kamu mendapat pesan dariku, dengan 3 huruf sederhana yang menyapamu. Percayalah, pada saatnya juga aku telah berhasil menjatuhkan egoku yang telah ribuan kali mencoba menentangnya. Aku telah mampu menaklukkan diri sendiri atas perasaan ini. Kamu harus tau bahwa aku telah mencoba berkali kali untuk memulainya. Meski sekedar 'Hai' singkat seolah tanpa makna. Sungguh di dalamnya terbersit harapan untuk mengetahui kabarmu yang jauh disana. Tidak kah kamu rindu? :) Pertanyaan ini ingin sekali ku tau jawabanmu. Meski mungkin harus kuterima kenyataan sakit karena tak dirindukan oleh seseorang yg aku rindukan. Seperti cinta, mungkin rindu juga bisa bertepuk sebelah ruang. Saat ruang hatiku dan ruang hatimu tidak senada. Aku merindu dan kamu justru tidak peduli terhadapku. Maka biarlah kerinduan yg sesak ini mengalir bersama kata kata yang ku tulis ini. Dariku, yang begitu putus asa merindukanmu.

Andai itu bukan aku

Andai itu bukan aku, yang ada di hatimu. Maka aku ingin berterimakasih. Untuk semuanya yang pernah kita lakukan bersama. Kalaupun itu tidak berakhir seperti yang aku inginkan. Aku akan selalu ingat, bagaimana bahagianya kita kala itu. Sibuk mencari cari  dan bermain seperti anak kecil. Betapa tawa bahagia kita saat itu sangat berharga. Aku tidak membencinya, aku tidak membencimu, aku tidak membenci kita. Aku hanya membenci diriku sendiri. Aku benci diriku yang terlalu polos untuk menganggap bahwa itu adalah sebuah perasaan lebih. Aku marah pada diriku bahwa aku telah salah mengartikan kebaikanmu. Aku fikir kamu hanya seperti itu kepadaku haha, ternyata kamu memang baik ke semuanya.  Kamu memang lelaki yang sangat baik. Dan itu yang membuatku marah, pada diri sendiri. Semakin kamu bersikap baik pada semua orang, eh maksutku ke semua wanita itu juga yang membuatku semakin marah pada diri sendiri. Bisa bisanya aku berfikir kamu memiliki rasa padaku padahal memang kamu seb...

Kejujuran yang berat

Siang ini udara berhembus dengan ringan, matahari bersinar terik, awan awanpun saling bertegur sapa. Aku iri padanya. Andai aku juga bisa, menanyakan kabarmu yang jauh disana. Hari ini, sudah hampir 2 bulan sejak pertemuan kita terakhir kali. Tentu saja aku rindu haha. Tapi aku selalu berusaha untuk tidak terlalu larut dengan hal itu. Aku hanya menjalani dan menikmati apa yang telah terjadi. Sejujurnya bukankah apa yang telah terjadi terlalu sulit untuk kita jabarkan? Maksutku, kita terlalu gengsi untuk mengakui, pun memulai. Kita hanya sibuk membuat penolakan atas masing-masing kita. Aku tidak peduli jika kau mengira aku terlalu percaya diri karena tulisan ini, seperti yang kau sampaikan pada ku terakhir kali. Dan kau tau, perkataanmu itu juga yang membuatku berfikir bahwa aku telah terlalu jauh. Menginginkan kita bersama, nyatanya terlalu berat bagiku. Kau yang terus saja menjauh. Membuatku berfikir ratusan kali untuk pergi. Meski pada akhirnya aku kembali lagi. Meski berat, ...

Lelaki penggenggam masa lalu

Jangan bersedih Kataku, Entah siapa yang pantas menerima ucapan ini. Kamu yg masih selalu mengingat masa lalumu, atau aku yang berdiri di depanmu dg bayangan masa lalumu. Barang kali kita tampak menyedihkan. Terlalu memaksa atau justru karena ingin mencari penyembuhan dari masing masing kita. Kamu yg belum bisa lepas dari masa lalumu, dan aku yg baru saja menerima luka dari seseorang yg pernah menjanjikan bersama kemudian pergi tanpa kata. Melihatmu yang semakin mengingat masa lalumu, membuatku semakin tak di inginkan. Oh iya, apalah aku ini. Hanya sekedar penenang saat kamu kebingungan, menjadi ramai saat hatimu sepi, menjadi mimpi kala nyata di depanmu terlampau perih untuk dilewati. Aku, menyedihkan. Tidak selamanya kita akan seperti ini bukan? Mungkin esok atau lusa akan ada yg berubah dari kita. Barang kali, esok kau akan memutuskan untuk menutup semua tentang hal buruk itu, dan menatap langkah depan bersama aku yg sedari dulu menginginkan itu. Atau justru, lusa aku ya...