Skip to main content

Akan selalu kurang, kalau yang jadi ukuran adalah nikmat orang lain

Pernahkan kamu iri dengan pencapaian orang lain?
Pernahkah kamu iri dengan apa yang dimiliki orang lain?
Pernahkan kamu ingin seperti orang lain yang tampak hidupnya lebih bahagia, lebih mudah, lebih kaya, lebih pintar, lebih disayangi dan lebih lebih yang lain. 

Pada dasarnya manusia sama, kita selalu ingin memiliki apa yang tidak kita miliki. Dan tidak bersyukur atas apa yang telah kita miliki. 

Tapi, mulai sekarang belajarlah untuk menerima dan tidak selalu menganggap pencapaian orang lain yang lebih baik dari kita adalah suatu hal yang mengganggu pikiran kita. barangkali tujuannya sama, tapi terkadang start-nya berbeda. prosesnya pun tidak mudah dan jelas tidak akan sama. jadi membandingkan dirimu dengan orang lain. hanya akan menyakiti diri kamu sendiri. 

kita akan selalu merasa kurang atas apa yang telah kita miliki. oleh karena itu, mulai sekarang belajarlah bersyukur. berhenti melihat nikmat orang lain. belajarlah untuk selalu bersyukur atas diri sendiri. atas apa yang kamu miliki. sebab, semuanya akan selalu kurang kalau yang jadi ukuran adalah nikmat orang lain.

Comments

Popular posts from this blog

Lelaki penggenggam masa lalu

Jangan bersedih Kataku, Entah siapa yang pantas menerima ucapan ini. Kamu yg masih selalu mengingat masa lalumu, atau aku yang berdiri di depanmu dg bayangan masa lalumu. Barang kali kita tampak menyedihkan. Terlalu memaksa atau justru karena ingin mencari penyembuhan dari masing masing kita. Kamu yg belum bisa lepas dari masa lalumu, dan aku yg baru saja menerima luka dari seseorang yg pernah menjanjikan bersama kemudian pergi tanpa kata. Melihatmu yang semakin mengingat masa lalumu, membuatku semakin tak di inginkan. Oh iya, apalah aku ini. Hanya sekedar penenang saat kamu kebingungan, menjadi ramai saat hatimu sepi, menjadi mimpi kala nyata di depanmu terlampau perih untuk dilewati. Aku, menyedihkan. Tidak selamanya kita akan seperti ini bukan? Mungkin esok atau lusa akan ada yg berubah dari kita. Barang kali, esok kau akan memutuskan untuk menutup semua tentang hal buruk itu, dan menatap langkah depan bersama aku yg sedari dulu menginginkan itu. Atau justru, lusa aku ya...

Kejujuran yang berat

Siang ini udara berhembus dengan ringan, matahari bersinar terik, awan awanpun saling bertegur sapa. Aku iri padanya. Andai aku juga bisa, menanyakan kabarmu yang jauh disana. Hari ini, sudah hampir 2 bulan sejak pertemuan kita terakhir kali. Tentu saja aku rindu haha. Tapi aku selalu berusaha untuk tidak terlalu larut dengan hal itu. Aku hanya menjalani dan menikmati apa yang telah terjadi. Sejujurnya bukankah apa yang telah terjadi terlalu sulit untuk kita jabarkan? Maksutku, kita terlalu gengsi untuk mengakui, pun memulai. Kita hanya sibuk membuat penolakan atas masing-masing kita. Aku tidak peduli jika kau mengira aku terlalu percaya diri karena tulisan ini, seperti yang kau sampaikan pada ku terakhir kali. Dan kau tau, perkataanmu itu juga yang membuatku berfikir bahwa aku telah terlalu jauh. Menginginkan kita bersama, nyatanya terlalu berat bagiku. Kau yang terus saja menjauh. Membuatku berfikir ratusan kali untuk pergi. Meski pada akhirnya aku kembali lagi. Meski berat, ...

Aku yang sebatas pernah

Pada sudut terkecil ruang hatimu, aku percaya aku pernah mengisinya. Menjadi alasanmu tersenyum bahagia, menggenggam harap bersama, meski pada akhirnya harus berakhir entah tanpa disengaja. Aku yang selalu mencoba mengerti, bahwa kesibukan adalah bagian dari ujian kebersamaan. Aku yang selalu meminta temu, disela sela waktu padatmu, namun seringkali harus merawat rasa itu. Aku yang selalu bilang rindu, padamu yang tak juga mampu membunuh jarak meski dekat. Aku yang selalu mencoba mematahkan takut, saat kamu diam diam mulai terlihat kalut. Bahwa setelah memberi nyaman kemudian menghilang bukanlah kamu. Nyatanya mimpi buruk itu ada. Ketakutanku benar adanya. Saat rinduku sudah tak mengenal tapi, saat kecewaku sudah tak mampu memberi maaf lagi, saat sabarku sudah tak tersisa lagi, aku mengerti ini saatnya aku untuk berhenti. Mengerti bahwa di dunia ini ada hal-hal yang memang tidak bisa kita paksakan. Dan menerima dengan ikhlas adalah sebaik-baiknya pilihan. Kini aku hanya bisa merela...