Pernah aku begitu menyayangi
Pernah juga aku tulus memberi
Pada hati yang tak pernah mengerti
Bahwa cintaku lebih dari kata tapi
Aku yang begitu tabah atas rasa yang tak menentu adanya
Atas luka yang terus bersemayam tanpa jeda
Hati yang kian terluka karena rasa
Aku yang mencintaimu bisa apa,
Jika hatiku begitu saja menerima
Aku terluka,
Entah untuk kesekian kalinya
Tak terhingga
Sebabmu yang terus saja meronta
Bahwa aku bisa untuk terus berjuang atas nama cinta
Aku wanita yang tak mengenal kata putus asa
Perihal mencintaimu misalnya,
Aku mengerti bahwa balasanmu adalah tentang lara
Memperjuangkanmu adalah sia-sia
Bertahan untukmu adalah kebodohan saja
Dan menyerah adalah pilihan utama
Tapi aku masih terus ingin berkata
Bahwa cintamu akan hadir, suatu saat yang entah untuk siapa
Bukan aku sepertinya
Tiadakah sedikit celah untuk dapat kurengkuh
Pada ruang hatimu yang kian menjauh
Aku yang mencintaimu dengan sungguh,
Tak akan mengeluh meski hatiku berpeluh
Sesekali aku ingin meminta
"Jangan perlakukan aku seperti wanita tanpa air mata"
Yang tiada peduli serapuh apa aku menaruh cinta
Hatimu akan terus berada disana,
Dengan penuh keangkuhan membiarkan aku berjuang tanpa iba
Untukmu yang tidak menolak, pun tidak menerima
Aku, wanita yang berjuang untukmu dengan rela
Meski mendapat balasan yang selalu mengundang air mata
Bahwa apakah selama ini sia-sia?
Atau justru memberi kabar gembira,
Sesungguhnya aku lelah terus meminta
Pasti yang terus tertahan sebabmu yang mungkin saja memilih dia
Aku bisa apa, selain menangisi semuanya
Pernah juga aku tulus memberi
Pada hati yang tak pernah mengerti
Bahwa cintaku lebih dari kata tapi
Aku yang begitu tabah atas rasa yang tak menentu adanya
Atas luka yang terus bersemayam tanpa jeda
Hati yang kian terluka karena rasa
Aku yang mencintaimu bisa apa,
Jika hatiku begitu saja menerima
Aku terluka,
Entah untuk kesekian kalinya
Tak terhingga
Sebabmu yang terus saja meronta
Bahwa aku bisa untuk terus berjuang atas nama cinta
Aku wanita yang tak mengenal kata putus asa
Perihal mencintaimu misalnya,
Aku mengerti bahwa balasanmu adalah tentang lara
Memperjuangkanmu adalah sia-sia
Bertahan untukmu adalah kebodohan saja
Dan menyerah adalah pilihan utama
Tapi aku masih terus ingin berkata
Bahwa cintamu akan hadir, suatu saat yang entah untuk siapa
Bukan aku sepertinya
Tiadakah sedikit celah untuk dapat kurengkuh
Pada ruang hatimu yang kian menjauh
Aku yang mencintaimu dengan sungguh,
Tak akan mengeluh meski hatiku berpeluh
Sesekali aku ingin meminta
"Jangan perlakukan aku seperti wanita tanpa air mata"
Yang tiada peduli serapuh apa aku menaruh cinta
Hatimu akan terus berada disana,
Dengan penuh keangkuhan membiarkan aku berjuang tanpa iba
Untukmu yang tidak menolak, pun tidak menerima
Aku, wanita yang berjuang untukmu dengan rela
Meski mendapat balasan yang selalu mengundang air mata
Bahwa apakah selama ini sia-sia?
Atau justru memberi kabar gembira,
Sesungguhnya aku lelah terus meminta
Pasti yang terus tertahan sebabmu yang mungkin saja memilih dia
Aku bisa apa, selain menangisi semuanya
Comments
Post a Comment