Aku selalu berniat meninggalkan, sebab aku sudah lelah diabaikan.
Suatu hari tiba tiba kau datang, memberi harapan. Lalu aku lupa bahwa aku berniat meninggalkan.
Saat aku terlalu bahagia sebabmu, tiba tiba kau menghilang. Hingga aku merasa terabaikan.
Kemudian kau menghampiri lagi, dengan membawa harapan. Katamu kau rindu dan ingin bertemu. Aku begitu bahagia lantas lupa, bahwa sedari awal aku berniat untuk mengahiri ini semua.
Aku sudah terlalu bersemangat menunggu pertemuan kita. Kemudian dengan santainya kau bilang “maaf aku lupa”. Dan selalu begitu~
Aku penasaran,
Sehina apa aku dimatamu, tuan?
Sampai kau dengan mudahnya datang, memberi janji lalu pergi.
Aku penasaran,
Sehina apa aku dimatamu, tuan?
Sampai kau dengan mudahnya datang, memberi janji lalu pergi.
Kini aku sadar, aku hanya pengisi saat kau kosong, bosan, saat kau kesepian. Aku tak seberuntung perempuan yg kau cintai. Tapi setidaknya aku bersyukur, tidak dibersamakan dengan seseorang yg hanya bisa berjanji tanpa pernah menepati.
Cukuplah selama ini aku berharap pada hal yg palsu. Rindumu, janjimu, kehadiranmu, kata-katamu, pun keseriusanmu, dan semua tentangmu adalah palsu.
Cukuplah selama ini aku berharap pada hal yg palsu. Rindumu, janjimu, kehadiranmu, kata-katamu, pun keseriusanmu, dan semua tentangmu adalah palsu.
Terimakasih telah mengajarkan banyak hal. Setidaknya, bahwa cinta saja tidak cukup bila tidak dihargai.
Kau, belajarlah lagi bagaimana cara menghargai perempuan. Jika tidak berniat membahagiakan, cukup jangan beri harapan. Jika memang ingin serius, berilah kepastian.
Jangan bermain hati perempuan, tuan. Dia lemah, mudah patah, kemudian menangis.
Kau, belajarlah lagi bagaimana cara menghargai perempuan. Jika tidak berniat membahagiakan, cukup jangan beri harapan. Jika memang ingin serius, berilah kepastian.
Jangan bermain hati perempuan, tuan. Dia lemah, mudah patah, kemudian menangis.
Aku pergi, tuan. Semoga dg pergi ku ini, kau paham bahwa selama ini aku sudah terlampau sabar menunggu. Menunggumu, menunggu pertemuan kita.
Aku telah sampai pada tahap, "aku lelah disakiti". Kini aku sadar, hidupku bukan hanya tentangmu. Mungkin diluar sana, ada yg mau memperjuangkanku. Yg akan bersedia bertemu, meski gerimis mengganghu. Siapa tau?
Aku telah sampai pada tahap, "aku lelah disakiti". Kini aku sadar, hidupku bukan hanya tentangmu. Mungkin diluar sana, ada yg mau memperjuangkanku. Yg akan bersedia bertemu, meski gerimis mengganghu. Siapa tau?
Sekali lagi. Selamat tinggal, tuan.
Semoga kau menemukan apa yg kau cari, yg tak kau temukan padaku selama ini.
Semoga kau menemukan apa yg kau cari, yg tak kau temukan padaku selama ini.
Comments
Post a Comment