Skip to main content

Ketika rindu tak menemukan jalan pulang

Kau tau? apa yang lebih membuat gila selain jatuh cinta?

Rindu.

Rindu yang tak tau waktu. Rindu yang tak tahu malu. Rindu yang membuat hati membeku.

Barang kali sederhana, jawaban terbaik rindu adalah bertemu. Tapi sepertinya, jarak masih menjadi dinding penghalang rindu ku untuk bertemu denganmu. Tapi nyatanya bukan hanya jarak, kau juga. 

Rinduku masih baik baik saja, setidaknya sampai saat ini. Sampai saatnya tiba, jika rindu ini sudah tak mampu ku bendung lagi. Cukup do'a ku yang setidaknya mampu melegakan hatiku. 

Kenangan saat-saat bersamamu, begitu berharga, masih ada, utuh, tak tersentuh. Karena dalam hatiku, ku menempatkannya dalam ruangan tersendiri yang orang lain tak bisa, maksutku tak boleh menyentuhnya. Cukup lah waktu dan orang baru yang akan menggantinya. 

Tempat itu kini masih tampak begitu menyedihkan. Menangis, mengeluh, meratap atas rindu yang begitu hebat. Tidak bisa kah kau menyapa? bukankah 3 huruf "hai" saja sudah cukup membuatku kegirangan. 

Andai kau mengerti, betapa menyedihkannya merindukanmu. Kau jauh, tapi kau dekat. Aku masih menyimpan kontakmu, kau juga bukan? sesekali ku melihat sosial mediamu hanya untuk mengetahui kabarmu. Tapi aku masih saja berharap kau akan menyelamatkan ku dengan 3 kata "Hai, apa kabar?". 

Jika itu tak mungkin, terlalu kejamkah jika  aku masih mengharapkan? Kau tau? rinduku sudah sampai pada puncaknya. Cukup, cukup aku menyebutnya ini puncak rinduku padamu karena aku tak ingin kelak kemudian hari rinduku semakin menggunung. Merindumu, sungguh menyiksaku. 

Aku harus memaafkan diriku sendiri jika saatnya tiba, aku tak mampu lagi menahan rinduku. Rindu yang masih ku genggam hingga kini, kemanapun aku pergi. Rindu ini tak pernah berkurang. Sepanjang jalan, rinduku semakin berceceran, namun tak pernah kehabisan. 

Sampai saat ini, ku masih merindukanmu. Rindu ku tak akan pulang sebelum kau datang. Akan ku perjuangkan rinduku yang malang, sampai kelak rindu ini menemukan jalan pulang.

Comments

Popular posts from this blog

Lelaki penggenggam masa lalu

Jangan bersedih Kataku, Entah siapa yang pantas menerima ucapan ini. Kamu yg masih selalu mengingat masa lalumu, atau aku yang berdiri di depanmu dg bayangan masa lalumu. Barang kali kita tampak menyedihkan. Terlalu memaksa atau justru karena ingin mencari penyembuhan dari masing masing kita. Kamu yg belum bisa lepas dari masa lalumu, dan aku yg baru saja menerima luka dari seseorang yg pernah menjanjikan bersama kemudian pergi tanpa kata. Melihatmu yang semakin mengingat masa lalumu, membuatku semakin tak di inginkan. Oh iya, apalah aku ini. Hanya sekedar penenang saat kamu kebingungan, menjadi ramai saat hatimu sepi, menjadi mimpi kala nyata di depanmu terlampau perih untuk dilewati. Aku, menyedihkan. Tidak selamanya kita akan seperti ini bukan? Mungkin esok atau lusa akan ada yg berubah dari kita. Barang kali, esok kau akan memutuskan untuk menutup semua tentang hal buruk itu, dan menatap langkah depan bersama aku yg sedari dulu menginginkan itu. Atau justru, lusa aku ya...

Kejujuran yang berat

Siang ini udara berhembus dengan ringan, matahari bersinar terik, awan awanpun saling bertegur sapa. Aku iri padanya. Andai aku juga bisa, menanyakan kabarmu yang jauh disana. Hari ini, sudah hampir 2 bulan sejak pertemuan kita terakhir kali. Tentu saja aku rindu haha. Tapi aku selalu berusaha untuk tidak terlalu larut dengan hal itu. Aku hanya menjalani dan menikmati apa yang telah terjadi. Sejujurnya bukankah apa yang telah terjadi terlalu sulit untuk kita jabarkan? Maksutku, kita terlalu gengsi untuk mengakui, pun memulai. Kita hanya sibuk membuat penolakan atas masing-masing kita. Aku tidak peduli jika kau mengira aku terlalu percaya diri karena tulisan ini, seperti yang kau sampaikan pada ku terakhir kali. Dan kau tau, perkataanmu itu juga yang membuatku berfikir bahwa aku telah terlalu jauh. Menginginkan kita bersama, nyatanya terlalu berat bagiku. Kau yang terus saja menjauh. Membuatku berfikir ratusan kali untuk pergi. Meski pada akhirnya aku kembali lagi. Meski berat, ...

Aku yang sebatas pernah

Pada sudut terkecil ruang hatimu, aku percaya aku pernah mengisinya. Menjadi alasanmu tersenyum bahagia, menggenggam harap bersama, meski pada akhirnya harus berakhir entah tanpa disengaja. Aku yang selalu mencoba mengerti, bahwa kesibukan adalah bagian dari ujian kebersamaan. Aku yang selalu meminta temu, disela sela waktu padatmu, namun seringkali harus merawat rasa itu. Aku yang selalu bilang rindu, padamu yang tak juga mampu membunuh jarak meski dekat. Aku yang selalu mencoba mematahkan takut, saat kamu diam diam mulai terlihat kalut. Bahwa setelah memberi nyaman kemudian menghilang bukanlah kamu. Nyatanya mimpi buruk itu ada. Ketakutanku benar adanya. Saat rinduku sudah tak mengenal tapi, saat kecewaku sudah tak mampu memberi maaf lagi, saat sabarku sudah tak tersisa lagi, aku mengerti ini saatnya aku untuk berhenti. Mengerti bahwa di dunia ini ada hal-hal yang memang tidak bisa kita paksakan. Dan menerima dengan ikhlas adalah sebaik-baiknya pilihan. Kini aku hanya bisa merela...